Latihan Membuat Soal Asesmen Numerasi SD: Contoh Soal dan Cara Menyusunnya
Kemampuan numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung. Dalam kehidupan sehari-hari, murid perlu mampu membaca informasi, memahami angka, memilih strategi perhitungan, menafsirkan data, serta menggunakan konsep matematika untuk mengambil keputusan.
Karena itu, soal asesmen numerasi SD sebaiknya tidak hanya meminta murid melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Soal yang baik juga memberikan situasi yang dapat dipahami murid dan meminta mereka menggunakan pengetahuan matematika untuk menyelesaikan persoalan.
Artikel ini membahas cara membuat soal asesmen numerasi tingkat SD, contoh soal, karakteristik soal berdasarkan level pembelajaran, serta cara mengembangkan soal dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Merdeka.
Apa yang Dimaksud dengan Asesmen Numerasi?
Numerasi atau literasi matematika berkaitan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan matematika untuk memahami dan menyelesaikan masalah dalam berbagai situasi. Murid tidak cukup hanya mengetahui rumus atau prosedur, tetapi perlu mampu menentukan informasi yang relevan, melakukan perhitungan, menafsirkan hasil, dan menggunakan hasil tersebut sesuai konteks.
Itulah sebabnya soal numerasi sering menggunakan konteks seperti uang, waktu, panjang, luas, volume, data, tabel, diagram, lingkungan, perjalanan, makanan, kegiatan sekolah, dan berbagai situasi kehidupan sehari-hari.
Catatan penting: soal numerasi tidak harus selalu sulit. Yang lebih penting adalah apakah murid benar-benar menggunakan pengetahuan matematika untuk memahami dan menyelesaikan suatu situasi.
Perbedaan Literasi Membaca dan Numerasi
Pada artikel lama, pembahasan literasi membaca dan numerasi masih tercampur. Keduanya memang sama-sama penting dalam asesmen, tetapi kemampuan yang diukur berbeda.
Literasi membaca berfokus pada kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dari teks. Sementara itu, numerasi berfokus pada kemampuan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan persoalan dalam berbagai konteks.
Dalam soal numerasi, murid tetap perlu membaca teks atau informasi. Namun, kemampuan membaca tersebut berfungsi untuk membantu murid memahami situasi matematika yang diberikan.
Level Pembelajaran Numerasi pada Jenjang SD
Dalam rujukan AKM yang digunakan sebagai dasar artikel ini, terdapat tiga level pembelajaran numerasi pada jenjang SD, yaitu Level 1 untuk kelas 2, Level 2 untuk kelas 4, dan Level 3 untuk kelas 6.
1. Level Pembelajaran 1 – Kelas 2 SD
Pada level ini, kemampuan numerasi masih berfokus pada konsep dasar. Murid belajar mengenali dan membandingkan bilangan, pola, operasi sederhana, bentuk geometri, pengukuran, serta situasi matematika yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Soal untuk kelas 2 sebaiknya menggunakan angka yang sesuai dengan kemampuan murid dan konteks yang mudah dibayangkan.
Contoh konteks: jumlah pensil, banyak buah, uang saku, panjang benda, posisi benda, bentuk bangun, atau jumlah siswa.
2. Level Pembelajaran 2 – Kelas 4 SD
Pada level ini, kemampuan matematika murid mulai berkembang ke situasi yang lebih kompleks. Murid dapat berhadapan dengan operasi bilangan, pecahan, pengukuran, geometri, pola, rasio sederhana, serta penyajian dan interpretasi data.
Soal dapat meminta murid membaca informasi terlebih dahulu, menentukan operasi yang tepat, kemudian menjelaskan atau menafsirkan hasilnya.
3. Level Pembelajaran 3 – Kelas 6 SD
Pada level ini, soal dapat menggunakan masalah yang lebih kompleks dan membutuhkan beberapa langkah penyelesaian. Murid dapat berhadapan dengan bilangan, pecahan, desimal, rasio, pengukuran, data, diagram, waktu, serta persoalan yang membutuhkan penalaran.
Rujukan AKM menunjukkan bahwa pada level ini murid juga dihadapkan pada kemampuan membaca dan menginterpretasikan data dalam bentuk tabel maupun berbagai jenis diagram.
Prinsip Membuat Soal Asesmen Numerasi SD
Sebelum membuat soal, guru sebaiknya tidak langsung menentukan angka dan pilihan jawaban. Mulailah dari kompetensi yang ingin diketahui.
Beberapa langkah berikut dapat membantu.
1. Tentukan kemampuan yang ingin diukur
Misalnya guru ingin mengetahui kemampuan murid dalam menghitung luas. Jangan hanya membuat soal seperti "Hitung luas persegi panjang berikut". Cobalah memberikan situasi yang membuat murid perlu menggunakan konsep luas untuk menyelesaikan masalah.
2. Pilih konteks yang dekat dengan murid
Konteks dapat berasal dari sekolah, rumah, lingkungan, kegiatan jual beli, permainan, perjalanan, tanaman, makanan, olahraga, atau kegiatan lainnya.
3. Berikan informasi yang perlu dianalisis
Soal numerasi dapat memuat teks pendek, tabel, gambar, diagram, atau data. Murid kemudian diminta menentukan informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.
4. Hindari perhitungan yang tidak diperlukan
Tujuan soal bukan membuat murid melakukan sebanyak mungkin operasi hitung. Jika satu operasi sudah cukup untuk mengukur kemampuan yang dituju, tidak perlu menambahkan perhitungan yang tidak memiliki fungsi.
5. Perhatikan tingkat kesulitan
Soal kelas 2, kelas 4, dan kelas 6 tentu tidak harus memiliki bentuk dan kompleksitas yang sama. Sesuaikan angka, konteks, jumlah informasi, serta proses berpikir dengan kemampuan murid.
Mengembangkan Soal Numerasi dengan Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran Mendalam memberikan ruang agar kegiatan belajar tidak berhenti pada mengetahui jawaban. Murid didorong untuk membangun pemahaman, menggunakan pengetahuan dalam situasi yang relevan, dan melakukan refleksi terhadap proses belajarnya.
Dalam kerangka resmi Pembelajaran Mendalam, pengalaman belajar mencakup memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Pendekatan ini juga menekankan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam penyusunan asesmen numerasi.
Memahami
Murid terlebih dahulu membaca situasi, mengenali informasi penting, memahami pertanyaan, dan menentukan konsep matematika yang diperlukan.
Mengaplikasi
Murid menggunakan konsep atau prosedur matematika untuk menyelesaikan masalah yang diberikan.
Merefleksi
Murid dapat diminta memeriksa kembali jawabannya, menjelaskan alasan, membandingkan strategi, atau menjelaskan apakah hasil perhitungannya masuk akal.
Dengan demikian, soal tidak hanya mengukur "berapa jawabannya", tetapi juga dapat memberikan informasi tentang bagaimana murid berpikir dan menggunakan pengetahuan matematika.
Contoh Latihan Soal Asesmen Numerasi Tingkat SD
Soal Nomor 1 – Luas Taman
Luas taman di halaman belakang sebuah rumah adalah 58 m². Sebanyak 3/8 bagian taman digunakan untuk kolam. Luas taman yang digunakan untuk kolam adalah ....
Jawaban: ........................................
A. 7,25 m²
B. 16,65 m²
C. 21,75 m²
D. 38,67 m²
Kunci Jawaban: C
Pembahasan:
Bagian taman yang digunakan untuk kolam adalah 3/8 dari 58 m².
58 × 3/8 = 21,75 m².
Jadi, luas taman yang digunakan untuk kolam adalah 21,75 m².
Aspek numerasi: pecahan dan luas dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Soal Nomor 2 – Membaca Informasi pada Gambar
Perhatikan gambar berikut!
Jika dituliskan dalam bentuk pecahan paling sederhana, berapakah kandungan sari buah apel berdasarkan informasi pada gambar?
Jawaban: ........................................
Kunci Jawaban: 9/25
Aspek numerasi: membaca informasi visual dan menyatakan bagian dalam bentuk pecahan.
Soal Nomor 3 – Waktu dan Biaya Parkir
Perhatikan gambar berikut!
Sebuah motor masuk ke dalam area parkir Stasiun Jakarta Kota pada pukul 09.50 dan keluar pada pukul 18.00.
Berapa kembalian yang akan diterima jika ia membayar dengan selembar uang Rp50.000,00?
Jawaban: ........................................
Kunci Jawaban: Rp40.000,00
Aspek numerasi: membaca waktu dan menggunakan informasi biaya dalam situasi nyata.
Soal Nomor 4 – Membaca Diagram
Perhatikan diagram lingkaran berikut yang menunjukkan data hasil panen Desa Mentari.
Jika jumlah seluruh panen adalah 500 kuintal, berapa kuintal hasil panen jagung?
A. 250 kuintal
B. 125 kuintal
C. 100 kuintal
D. 25 kuintal
Kunci Jawaban: B
Aspek numerasi: membaca dan menafsirkan data yang disajikan dalam bentuk diagram.
Soal Nomor 5 – Debit dan Volume
Perhatikan gambar berikut!
Seandainya air yang dibiarkan mengalir selama 1 jam tersebut ditampung di dalam sebuah wadah atau ember, wadah manakah yang dapat menampung seluruh air tersebut?
A. Wadah atau ember berkapasitas lebih dari 350 liter.
B. Wadah atau ember berkapasitas kurang dari 350 liter.
Jelaskan dengan perhitungan!
Pembahasan:
1 jam = 60 menit.
Jika debit air adalah 6 liter per menit, maka volume air selama 1 jam:
60 × 6 = 360 liter.
Jadi, wadah yang digunakan harus memiliki kapasitas lebih dari 350 liter.
Soal Nomor 6 – Aritmetika Sosial dan Kepedulian
Pak Darmo berjualan bubur ayam setiap hari Senin sampai Jumat dengan modal Rp400.000,00 per hari.
Satu porsi bubur ayam dijual dengan harga Rp10.000,00 dan air mineral dijual dengan harga Rp4.000,00 per botol.
Pada hari Senin sampai Kamis, 10% keuntungan Pak Darmo disumbangkan untuk Panti Asuhan Maju Bersama. Pada hari Jumat, seluruh keuntungan disumbangkan untuk panti asuhan tersebut.
Jika pada suatu hari Kamis Pak Darmo menjual 80 porsi bubur ayam dan 30 botol air mineral, berapa besar sumbangan yang diberikan kepada panti asuhan?
Kunci Jawaban: Rp52.000,00
Pembahasan:
Pendapatan dari bubur ayam:
80 × Rp10.000,00 = Rp800.000,00
Pendapatan dari air mineral:
30 × Rp4.000,00 = Rp120.000,00
Total pendapatan:
Rp800.000,00 + Rp120.000,00 = Rp920.000,00
Keuntungan:
Rp920.000,00 − Rp400.000,00 = Rp520.000,00
Sumbangan 10%:
10% × Rp520.000,00 = Rp52.000,00
Bagaimana Mengubah Soal Biasa Menjadi Soal Numerasi yang Lebih Bermakna?
Salah satu cara meningkatkan kualitas soal adalah mengubah soal yang hanya menanyakan hasil perhitungan menjadi masalah yang memiliki konteks.
Misalnya:
Soal biasa:
Hitunglah 250 × 4.
Soal tersebut memang dapat mengukur kemampuan perkalian. Namun, guru dapat mengubahnya menjadi:
Soal kontekstual:
Sebuah kelas memiliki 250 lembar kertas untuk kegiatan membuat karya. Jika setiap kelompok mendapatkan 4 lembar kertas, berapa lembar kertas yang digunakan untuk 4 kelompok?
Konteks tersebut membuat murid perlu memahami situasi terlebih dahulu sebelum melakukan operasi matematika.
Mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam ke dalam Asesmen Numerasi
Soal numerasi dapat dirancang agar tidak hanya mengukur kemampuan menghitung, tetapi juga mendorong murid berpikir dan menjelaskan prosesnya.
Tahap 1 – Memahami Masalah
Murid membaca informasi yang tersedia, mengenali angka, memahami satuan, serta menentukan apa yang sebenarnya ditanyakan.
Guru dapat memberikan pertanyaan pemantik seperti:
- Informasi apa yang diketahui?
- Apa yang harus dicari?
- Apakah semua informasi diperlukan?
Tahap 2 – Mengaplikasikan Pengetahuan
Murid memilih konsep atau strategi yang sesuai. Mereka kemudian melakukan perhitungan dan memperoleh hasil.
Pada tahap ini, guru dapat memberikan kesempatan kepada murid untuk menggunakan strategi yang berbeda apabila memungkinkan.
Tahap 3 – Merefleksi
Setelah memperoleh jawaban, murid tidak langsung berhenti. Mereka dapat memeriksa kembali hasilnya.
Contoh pertanyaan refleksi:
- Apakah jawabanmu masuk akal?
- Bagaimana kamu mendapatkan jawaban tersebut?
- Apakah ada cara lain untuk menyelesaikan soal?
- Di mana konsep matematika tersebut dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari?
Refleksi seperti ini membantu murid melihat hubungan antara matematika yang dipelajari dengan pengalaman nyata. Hal tersebut sejalan dengan pengalaman belajar dalam Pembelajaran Mendalam yang mendorong murid untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pembelajaran.
Tips Membuat Soal Numerasi yang Tidak Terlalu Sulit tetapi Tetap Menantang
- Gunakan konteks yang dikenal murid.
- Gunakan kalimat yang jelas dan tidak berbelit-belit.
- Sesuaikan angka dengan tingkat kemampuan murid.
- Gunakan tabel, gambar, atau diagram apabila memang membantu.
- Pastikan data dalam soal cukup untuk menemukan jawaban.
- Hindari informasi yang sengaja dibuat membingungkan tanpa tujuan.
- Gunakan beberapa bentuk pertanyaan, bukan hanya pilihan ganda.
- Berikan kesempatan murid menjelaskan alasan atau strategi penyelesaiannya.
- Periksa kembali satuan, angka, dan kunci jawaban sebelum soal digunakan.
Bentuk Soal Numerasi yang Dapat Digunakan Guru
Soal numerasi tidak harus selalu berupa pilihan ganda. Guru dapat menggunakan berbagai bentuk sesuai tujuan asesmen.
Pilihan Ganda
Cocok untuk mengukur kemampuan dengan proses penyelesaian yang relatif terarah.
Pilihan Ganda Kompleks
Dapat digunakan ketika terdapat lebih dari satu pernyataan yang harus dianalisis.
Isian Singkat
Cocok untuk meminta murid memberikan angka, hasil pengukuran, atau jawaban singkat.
Uraian
Dapat digunakan untuk mengetahui cara murid menjelaskan strategi dan alasan dalam menyelesaikan masalah.
Soal Berbasis Data
Guru dapat memberikan tabel, diagram, grafik, atau gambar kemudian meminta murid membaca dan menafsirkan informasi tersebut.
Asesmen Numerasi Tidak Hanya Tentang Jawaban Benar
Dalam pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman, jawaban benar memang penting, tetapi proses yang dilakukan murid juga memberikan informasi berharga kepada guru.
Misalnya, dua murid sama-sama mendapatkan jawaban 120. Murid pertama dapat menjelaskan langkah perhitungannya dengan tepat, sedangkan murid kedua mendapatkan jawaban tersebut secara kebetulan. Hasil akhirnya sama, tetapi pemahamannya belum tentu sama.
Karena itu, guru dapat menggunakan soal yang memberikan ruang bagi murid untuk menunjukkan strategi, alasan, dan cara berpikir.
Hal ini juga dapat membantu guru menentukan tindak lanjut pembelajaran, apakah murid membutuhkan penguatan konsep, latihan tambahan, atau tantangan yang lebih tinggi.
Kesimpulan
Latihan membuat soal asesmen numerasi tingkat SD sebaiknya dimulai dari tujuan yang ingin diukur, bukan sekadar mencari angka yang akan dihitung. Soal dapat menggunakan konteks kehidupan sehari-hari agar murid memahami bahwa matematika bukan hanya kumpulan rumus, tetapi alat untuk memahami dan menyelesaikan persoalan.
Guru dapat menggunakan konteks uang, waktu, luas, volume, pengukuran, data, diagram, lingkungan, kegiatan sekolah, dan berbagai situasi nyata lainnya. Tingkat kompleksitas soal kemudian disesuaikan dengan kemampuan murid.
Melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam, soal numerasi juga dapat dikembangkan agar murid tidak berhenti pada mendapatkan jawaban. Murid dapat diajak memahami masalah, mengaplikasikan pengetahuan, dan merefleksikan hasil serta strategi penyelesaiannya.
Dengan cara tersebut, asesmen tidak hanya menjadi alat untuk mengetahui benar atau salah, tetapi juga membantu guru memahami proses berpikir murid dan menentukan pembelajaran berikutnya.
Untuk guru: ketika membuat soal numerasi, coba tanyakan tiga hal: Apakah murid memahami situasinya? Apakah mereka dapat menggunakan konsep matematika untuk menyelesaikannya? Apakah mereka dapat menjelaskan atau merefleksikan jawabannya?
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa yang dimaksud dengan soal asesmen numerasi SD?
Soal asesmen numerasi SD adalah soal yang mengukur kemampuan murid menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematika untuk memahami serta menyelesaikan masalah dalam berbagai konteks.
2. Apakah soal numerasi harus menggunakan cerita?
Tidak selalu. Namun, konteks dapat membantu mengukur kemampuan murid dalam menggunakan matematika pada situasi yang lebih nyata. Bentuk soal dapat berupa teks, tabel, gambar, diagram, maupun kombinasi beberapa informasi.
3. Apa perbedaan soal numerasi dengan soal matematika biasa?
Soal matematika dapat berfokus pada penguasaan prosedur atau konsep tertentu. Soal numerasi lebih menekankan penggunaan pengetahuan matematika untuk memahami dan menyelesaikan persoalan dalam konteks tertentu.
4. Apakah Pembelajaran Mendalam dapat digunakan dalam asesmen numerasi?
Ya. Guru dapat merancang pengalaman belajar dan asesmen yang memberikan kesempatan kepada murid untuk memahami masalah, mengaplikasikan konsep, serta merefleksikan proses dan hasil penyelesaian.
5. Apakah soal numerasi harus sulit?
Tidak. Soal sebaiknya sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kemampuan murid. Soal yang sederhana tetapi mengukur kemampuan secara tepat lebih bermanfaat daripada soal yang sulit tetapi tidak sesuai dengan kompetensi yang dituju.
6. Mengapa konteks kehidupan sehari-hari penting dalam soal numerasi?
Konteks membantu murid melihat hubungan antara konsep matematika dengan kehidupan. Dengan demikian, murid tidak hanya mengetahui cara menghitung, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Materi Terkait
Bagi guru yang sedang menyusun perangkat pembelajaran berbasis Pembelajaran Mendalam, materi soal numerasi dapat dikembangkan menjadi bagian dari modul ajar, LKPD, kegiatan pembelajaran, maupun asesmen formatif.
Download Lengkap Modul Ajar Deep Learning SD Kelas 1-6 Kurikulum Merdeka CP 046 Terbaru 2025
Perangkat tersebut dapat menjadi referensi untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi murid.
Semoga artikel ini dapat membantu Bapak dan Ibu Guru dalam menyusun soal asesmen numerasi SD yang lebih kontekstual, jelas, dan sesuai dengan kebutuhan murid.