Cara Menyusun ATP Kurikulum Merdeka yang Benar: Panduan Lengkap dari CP hingga Tujuan Pembelajaran
Kurikulum Merdeka memberikan ruang kepada satuan pendidikan dan pendidik untuk mengembangkan pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan konteks lingkungan. Dalam perencanaan pembelajaran, salah satu dokumen yang penting dipahami guru adalah Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Bagi sebagian guru, ATP masih sering disamakan dengan daftar materi, tujuan pembelajaran harian, atau perangkat pembelajaran lengkap. Padahal, ATP memiliki fungsi yang lebih khusus, yaitu menyusun rangkaian tujuan pembelajaran secara sistematis dan logis agar murid dapat mencapai Capaian Pembelajaran (CP) pada akhir suatu fase.
Karena itu, cara menyusun ATP dalam Kurikulum Merdeka tidak dimulai dari KD dan IPK seperti pada Kurikulum 2013. Guru perlu memahami CP terlebih dahulu, kemudian merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP), lalu mengurutkannya menjadi satu alur yang jelas dalam fase yang bersangkutan.
Cara Menyusun ATP dalam Kurikulum Merdeka
Alur Tujuan Pembelajaran atau ATP adalah rangkaian Tujuan Pembelajaran (TP) yang disusun secara sistematis dan logis dalam satu fase agar murid dapat mencapai Capaian Pembelajaran (CP).
Dengan pengertian tersebut, ATP bukan sekadar daftar materi yang akan diajarkan. ATP menunjukkan arah perkembangan kompetensi murid dari satu tujuan pembelajaran menuju tujuan pembelajaran berikutnya sampai seluruh alur dalam fase tersebut selesai.
Guru dapat menyusun ATP secara mandiri berdasarkan CP, mengembangkan atau memodifikasi contoh ATP yang tersedia, maupun menggunakan contoh yang disediakan pemerintah sebagai inspirasi. Yang paling penting, ATP yang digunakan tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, murid, dan konteks satuan pendidikan.
Hubungan CP, TP, dan ATP
Supaya tidak keliru saat menyusun perangkat pembelajaran, guru perlu memahami hubungan antara tiga istilah berikut.
1. Capaian Pembelajaran (CP)
CP merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai murid pada akhir fase. CP menjadi titik awal dalam perencanaan karena dari sinilah guru melihat kompetensi dan lingkup materi yang perlu dikembangkan.
2. Tujuan Pembelajaran (TP)
TP dirumuskan berdasarkan CP menjadi tujuan pembelajaran yang lebih operasional dan konkret. Dalam merumuskan TP, guru dapat melihat dua komponen utama, yaitu kompetensi yang perlu ditunjukkan murid dan lingkup materi yang perlu dipahami.
3. Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)
TP yang sudah dirumuskan kemudian diurutkan menjadi sebuah alur. Urutan tersebut perlu membantu murid bergerak secara logis dari kemampuan yang lebih sederhana menuju kemampuan yang lebih kompleks sesuai karakteristik mata pelajaran.
Secara sederhana, hubungan ketiganya dapat dipahami seperti berikut:
CP → Merumuskan TP → Mengurutkan TP → Menjadi ATP
Apakah ATP Sama dengan Tujuan Pembelajaran Harian?
Tidak. Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah membuat ATP seperti daftar tujuan untuk setiap pertemuan.
ATP berada pada tingkat perencanaan yang lebih luas. Tujuan pembelajaran dalam ATP merupakan tujuan yang membantu mencapai CP dalam satu fase, bukan sekadar tujuan untuk satu kali kegiatan pembelajaran.
Karena itu, guru tidak perlu memasukkan seluruh langkah kegiatan mengajar, metode, media, atau aktivitas pembelajaran harian ke dalam ATP. Hal-hal tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut dalam perencanaan pembelajaran.
Prinsip Penting dalam Menyusun ATP
Dalam penyusunan ATP, terdapat beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan agar alurnya benar-benar membantu pencapaian CP.
1. Fokus pada pencapaian CP
ATP harus berorientasi pada pencapaian Capaian Pembelajaran. ATP bukan dokumen untuk menuliskan daftar metode mengajar atau strategi pedagogis yang akan digunakan.
2. ATP disusun untuk satu fase secara utuh
Alur yang dibuat sebaiknya tidak berhenti di tengah fase. Guru perlu melihat perkembangan tujuan pembelajaran dari awal sampai akhir fase sehingga hubungan antar-TP menjadi lebih jelas.
3. Tujuan pembelajaran bukan tujuan harian
TP dalam ATP merupakan tujuan yang lebih umum. Tujuan tersebut kemudian dapat dijabarkan dalam kegiatan pembelajaran sesuai kebutuhan murid.
4. Dikembangkan secara kolaboratif
Pengembangan ATP akan lebih baik apabila dilakukan melalui kolaborasi guru yang mengajar pada fase yang sama. Misalnya, guru kelas 1 dan kelas 2 dapat berdiskusi ketika menyusun ATP untuk Fase A.
5. Memperhatikan karakteristik mata pelajaran
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik kompetensi dan materi yang berbeda. Karena itu, urutan TP pada Matematika tidak harus mengikuti pola yang sama dengan Bahasa Indonesia, IPA, Pendidikan Pancasila, atau mata pelajaran lainnya.
6. Urutannya logis
Urutan tujuan pembelajaran perlu menunjukkan perkembangan kemampuan murid. Dalam banyak kasus, kemampuan dasar perlu dikuasai terlebih dahulu sebelum murid diarahkan pada kemampuan yang lebih kompleks. Namun urutannya tetap harus mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran.
7. Tidak perlu dibuat lintas fase
ATP pada umumnya dikembangkan untuk satu fase. Guru tidak perlu memaksakan satu alur untuk menghubungkan semua fase sekaligus.
8. Dapat menggunakan nomor atau kode
Nomor atau kode dapat membantu guru membaca urutan TP dengan lebih mudah. Kode tersebut berfungsi sebagai penanda urutan, bukan sebagai tujuan pembelajaran baru.
9. Satu alur harus jelas
ATP sebaiknya menunjukkan satu alur yang jelas dan tidak dibuat bercabang tanpa alasan. Jika terdapat variasi urutan yang memungkinkan, variasi tersebut lebih baik disusun sebagai alur alternatif tersendiri.
10. Tidak perlu memasukkan strategi pembelajaran ke dalam ATP
Metode, model, pendekatan, media, dan aktivitas pembelajaran tidak harus dituliskan pada ATP. Guru dapat menentukan strategi pembelajaran pada tahap perencanaan pembelajaran setelah tujuan yang akan dicapai sudah jelas.
Langkah-Langkah Menyusun ATP
Berikut langkah praktis yang dapat digunakan guru ketika menyusun ATP Kurikulum Merdeka.
Langkah 1: Tentukan fase dan mata pelajaran
Pastikan guru sudah mengetahui mata pelajaran dan fase yang akan disusun. Penentuan fase penting karena CP ditetapkan berdasarkan fase.
Contohnya, Fase A pada jenjang SD mencakup kelas 1 dan kelas 2. Karena itu, ketika menyusun ATP Fase A, guru perlu melihat perkembangan kompetensi selama fase tersebut, bukan hanya kebutuhan satu kelas.
Langkah 2: Pelajari dan analisis CP
Baca CP secara menyeluruh. Jangan langsung memotong setiap kalimat menjadi tujuan pembelajaran tanpa menganalisis maknanya terlebih dahulu.
Guru dapat memberi tanda pada bagian yang menunjukkan:
- kompetensi atau kemampuan yang perlu dikuasai murid;
- lingkup materi atau konsep yang perlu dipahami; dan
- kata kerja atau kemampuan yang menunjukkan tingkat penguasaan yang diharapkan.
Analisis tersebut membantu guru memperoleh gambaran mengenai apa yang harus benar-benar dipelajari murid dalam satu fase.
Langkah 3: Identifikasi kompetensi dan lingkup materi
Setelah memahami CP, pisahkan secara lebih jelas antara kompetensi dan lingkup materi.
Misalnya, ketika CP meminta murid untuk menjelaskan, membandingkan, mengidentifikasi, menggunakan, menganalisis, atau menghasilkan sesuatu, guru perlu melihat kemampuan apa yang sebenarnya perlu ditunjukkan.
Selanjutnya, tentukan materi atau konsep utama yang menjadi ruang lingkup pembelajaran.
Langkah 4: Rumuskan Tujuan Pembelajaran
Susun TP yang konkret berdasarkan hasil analisis CP. Rumusan TP sebaiknya menggambarkan kemampuan yang dapat ditunjukkan murid setelah belajar serta lingkup materi yang dipelajari.
Contoh sederhana rumusan TP:
“Murid dapat membandingkan nilai beberapa bilangan cacah berdasarkan posisi setiap angka.”
Rumusan tersebut lebih jelas daripada sekadar menulis “Bilangan cacah” karena guru dapat melihat kompetensi yang diharapkan sekaligus materi yang dipelajari.
Langkah 5: Susun TP menjadi urutan yang logis
Setelah seluruh TP dirumuskan, barulah guru menyusun urutannya.
Pertanyaan berikut dapat membantu:
- TP mana yang perlu dikuasai lebih dahulu?
- Pengetahuan atau keterampilan apa yang menjadi prasyarat?
- Apakah urutan tersebut sesuai dengan karakteristik mata pelajaran?
- Apakah murid dapat berpindah dari satu TP ke TP berikutnya secara masuk akal?
Tujuannya bukan sekadar membuat daftar panjang, tetapi menghasilkan alur perkembangan belajar yang dapat dipahami.
Langkah 6: Tentukan pembagian ke kelas atau periode belajar
Setelah ATP satu fase tersusun, sekolah atau guru dapat mengatur pembagian tujuan pembelajaran ke kelas dan periode belajar sesuai kebutuhan.
Pembagian tersebut dapat mempertimbangkan kesiapan murid, kedalaman materi, alokasi waktu, karakteristik lingkungan sekolah, serta keterkaitan antar-TP.
Dengan demikian, pembagian ATP ke kelas bukan berarti guru menyusun ulang CP menjadi CP baru untuk setiap kelas. Yang dilakukan adalah mengatur distribusi tujuan pembelajaran agar alurnya dapat diterapkan secara realistis.
Langkah 7: Tinjau kembali keterkaitan antar-TP
Sebelum ATP digunakan, periksa kembali apakah setiap tujuan memiliki hubungan yang jelas dengan TP sebelum dan sesudahnya.
Hindari dua kondisi berikut: TP yang terlalu jauh melompat dari kemampuan sebelumnya dan TP yang sebenarnya mengulang kemampuan yang sama tanpa perkembangan yang berarti.
Contoh Sederhana ATP Kurikulum Merdeka
Contoh berikut merupakan ilustrasi penyusunan ATP, bukan format baku ATP untuk semua sekolah. Guru tetap perlu menyesuaikannya dengan CP mata pelajaran dan karakteristik satuan pendidikan.
Mata Pelajaran: Matematika
Fase: A
Lingkup: Bilangan
| Urutan | Contoh Tujuan Pembelajaran | Perkembangan Kemampuan |
|---|---|---|
| 1 | Murid mengenali dan membaca bilangan sesuai lingkup yang dipelajari. | Pemahaman dasar |
| 2 | Murid membandingkan nilai beberapa bilangan menggunakan representasi yang sesuai. | Membandingkan |
| 3 | Murid menggunakan bilangan untuk menyelesaikan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. | Penerapan |
| 4 | Murid menjelaskan strategi yang digunakan dan memeriksa kembali hasil penyelesaiannya. | Penalaran dan refleksi |
Pada contoh tersebut, terlihat bahwa ATP bukan daftar kegiatan seperti “guru menjelaskan materi”, “siswa mengerjakan LKPD”, atau “siswa mengerjakan soal”. Kalimat-kalimat tersebut merupakan kegiatan pembelajaran, sedangkan ATP berfokus pada perkembangan tujuan belajar murid.
Apakah Model atau Metode Pembelajaran Harus Ditulis dalam ATP?
Tidak harus. Guru dapat memilih model atau praktik pedagogis setelah tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran ditetapkan.
Misalnya, untuk mencapai suatu TP guru dapat menggunakan pembelajaran berbasis masalah, inkuiri, diskusi, pembelajaran kolaboratif, proyek, demonstrasi, eksperimen, pembelajaran berdiferensiasi, atau pendekatan lain yang sesuai.
Dengan cara tersebut, ATP tetap menjadi dokumen yang fokus pada arah kompetensi, sedangkan perencanaan pembelajaran menjelaskan bagaimana tujuan tersebut akan dicapai.
Hubungan ATP dengan Pembelajaran Mendalam
Dalam kebijakan pendidikan yang berlaku, Pembelajaran Mendalam diposisikan sebagai pendekatan pembelajaran, bukan sekadar nama model pembelajaran. Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan serta mendorong pengalaman belajar murid melalui proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
ATP dapat menjadi salah satu dasar untuk merancang pembelajaran yang lebih mendalam karena guru terlebih dahulu menentukan perkembangan kompetensi yang ingin dicapai. Setelah itu, guru dapat memilih pengalaman belajar yang membuat murid memahami konsep, menerapkannya pada situasi yang relevan, dan merefleksikan proses belajarnya.
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah Pembelajaran Mendalam tidak perlu dipaksakan menjadi kolom tersendiri dalam ATP. ATP tetap fokus pada alur tujuan pembelajaran dan pencapaian CP. Prinsip serta pengalaman belajar Pembelajaran Mendalam dapat diwujudkan pada tahap desain dan pelaksanaan pembelajaran.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menyusun ATP
1. Masih menggunakan KD dan IPK
KD dan IPK merupakan istilah yang sangat identik dengan struktur Kurikulum 2013. Dalam Kurikulum Merdeka, guru perlu menggunakan CP sebagai titik awal penyusunan TP dan ATP.
2. ATP dibuat hanya untuk satu pertemuan
ATP bukan jadwal kegiatan harian. Alurnya perlu menggambarkan perkembangan tujuan pembelajaran dalam satu fase.
3. ATP hanya berisi daftar materi
Menulis “pecahan, bilangan, pengukuran, bangun datar” belum menunjukkan apa yang harus dapat dilakukan murid. Materi perlu dihubungkan dengan kompetensi yang akan ditunjukkan.
4. Semua metode dimasukkan ke ATP
ATP tidak perlu dipenuhi dengan istilah seperti Discovery Learning, Problem Based Learning, diskusi, ceramah, demonstrasi, atau proyek. Metode tersebut merupakan bagian dari pilihan pedagogis dalam pembelajaran.
5. Membuat alur yang terlalu padat
ATP yang baik tidak harus memiliki sebanyak mungkin tujuan. Yang lebih penting adalah setiap tujuan benar-benar diperlukan untuk membantu murid mencapai CP.
6. Tidak melihat hubungan antar-tujuan
Setiap TP seharusnya memiliki alasan mengapa ditempatkan pada posisi tersebut. Jika urutannya tidak logis, guru akan lebih sulit merancang pembelajaran yang berkesinambungan.
Tips agar ATP Lebih Mudah Digunakan Guru
ATP sebaiknya dibuat dengan tampilan yang sederhana, mudah dibaca, dan tidak dipenuhi keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Guru dapat menggunakan kolom seperti:
- Nomor atau kode TP;
- Tujuan Pembelajaran;
- Lingkup materi atau konsep utama jika diperlukan;
- Urutan atau keterkaitan TP; dan
- Catatan pembagian ke kelas atau periode apabila memang dibutuhkan sekolah.
Format dapat disesuaikan. Tidak ada manfaatnya membuat tabel ATP sangat rumit apabila guru justru kesulitan membacanya ketika digunakan untuk merencanakan pembelajaran.
Bagaimana Mengetahui ATP Sudah Baik?
Guru dapat melakukan pemeriksaan sederhana dengan beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah ATP berangkat dari CP yang sesuai?
- Apakah setiap TP menggambarkan kompetensi dan lingkup materi yang jelas?
- Apakah urutan TP masuk akal dan tidak melompat terlalu jauh?
- Apakah alurnya mencakup satu fase secara utuh?
- Apakah setiap TP memang diperlukan untuk membantu mencapai CP?
- Apakah ATP masih cukup fleksibel untuk disesuaikan dengan kondisi murid dan satuan pendidikan?
Apabila jawabannya sebagian besar sudah “ya”, ATP tersebut kemungkinan sudah memiliki arah yang baik dan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perencanaan pembelajaran.
ATP Bukan Dokumen yang Harus Kaku
Salah satu hal penting dalam Kurikulum Merdeka adalah kemampuan satuan pendidikan dan pendidik menyesuaikan pembelajaran dengan konteks nyata. Karena itu, ATP tidak seharusnya diperlakukan sebagai dokumen yang kaku dan tidak boleh diperbaiki.
Guru dapat melakukan peninjauan apabila ditemukan bahwa urutan tujuan pembelajaran kurang sesuai dengan kebutuhan murid, terdapat materi prasyarat yang belum dikuasai, atau terdapat kondisi lain yang memengaruhi proses belajar.
Namun, perubahan tetap perlu dilakukan secara terarah dan tidak menghilangkan keterkaitan ATP dengan CP.
Kesimpulan
Cara menyusun ATP dalam Kurikulum Merdeka pada dasarnya dimulai dari memahami Capaian Pembelajaran (CP), menganalisis kompetensi dan lingkup materi, merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP), kemudian menyusun TP tersebut menjadi alur yang sistematis dan logis dalam satu fase.
Guru tidak perlu lagi memulai penyusunan ATP dengan KD dan IPK. Demikian pula, ATP tidak perlu diisi dengan seluruh metode, media, aktivitas, atau langkah kegiatan pembelajaran.
ATP yang baik justru memiliki arah yang jelas, tidak bertele-tele, fokus pada pencapaian CP, dan dapat membantu guru melihat perkembangan kompetensi murid dari awal sampai akhir fase.
Dalam penerapan Pembelajaran Mendalam, ATP juga dapat menjadi pijakan untuk merancang pengalaman belajar yang membantu murid memahami, mengaplikasi, dan merefleksi sehingga pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi terhubung dengan pemahaman dan penerapannya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang ATP
Apakah guru wajib membuat ATP sendiri?
Tidak selalu. Guru dapat merancang ATP sendiri berdasarkan CP, mengembangkan atau memodifikasi contoh yang tersedia, maupun menggunakan contoh ATP yang disediakan pemerintah sebagai referensi sesuai kebutuhan.
Apakah ATP dibuat untuk setiap mata pelajaran?
ATP disusun sesuai mata pelajaran dan fase yang direncanakan. Karena karakteristik setiap mata pelajaran berbeda, bentuk urutan tujuan pembelajarannya juga dapat berbeda.
Apakah ATP harus dibuat per semester?
ATP pada prinsipnya menggambarkan alur tujuan pembelajaran dalam satu fase. Setelah alur fase tersusun, sekolah dapat mengatur pembagian tujuan pembelajaran ke kelas dan periode belajar sesuai kebutuhan.
Apakah ATP harus menggunakan format tabel tertentu?
Tidak harus menggunakan satu format yang kaku. Yang paling penting adalah isi ATP dapat menunjukkan rangkaian tujuan pembelajaran secara jelas, sistematis, dan logis untuk membantu murid mencapai CP.
Apakah model pembelajaran harus ditulis dalam ATP?
Tidak perlu. Model, metode, media, dan strategi pembelajaran dapat ditentukan pada tahap perencanaan pembelajaran dengan mempertimbangkan tujuan, karakteristik murid, materi, dan konteks pembelajaran.
Di mana mendapatkan referensi CP dan ATP?
Guru dapat memanfaatkan referensi resmi pemerintah melalui portal CP & ATP Kemendikdasmen. Portal tersebut menyediakan referensi Capaian Pembelajaran dan inspirasi Alur Tujuan Pembelajaran.
Referensi Resmi
Artikel ini disusun dengan merujuk pada beberapa sumber resmi agar istilah dan konsep yang digunakan tetap sesuai dengan kebijakan Kurikulum Merdeka.