Panduan Kokurikuler 2025: Pengertian, Bentuk, Perencanaan, Asesmen, dan Contohnya
Ada satu bagian dalam Kurikulum Merdeka yang belakangan semakin banyak diperhatikan guru dan satuan pendidikan, yaitu kokurikuler.
Bukan karena kokurikuler sekadar menjadi tambahan kegiatan sekolah, tetapi karena cara pelaksanaannya kini diarahkan agar benar-benar memberi pengalaman belajar yang bermakna bagi murid.
Untuk membantu sekolah memahami arah tersebut, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Panduan Kokurikuler Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah Tahun 2025.
Panduan ini tidak hanya membahas pengertian kokurikuler. Isinya juga mencakup kerangka pembelajaran, perencanaan, pelaksanaan, asesmen, pelaporan, evaluasi, tindak lanjut, hingga berbagai contoh kegiatan yang dapat dijadikan inspirasi oleh satuan pendidikan.
Yang akan dibahas dalam artikel ini:
- Pengertian dan tujuan kokurikuler
- 8 dimensi profil lulusan
- Karakteristik kegiatan kokurikuler
- Kaitan kokurikuler dengan Pembelajaran Mendalam
- 3 bentuk kegiatan kokurikuler
- Cara merencanakan kegiatan kokurikuler
- Pelaksanaan dan asesmen kokurikuler
- Pelaporan, evaluasi, dan tindak lanjut
- Link download Panduan Kokurikuler 2025
Download Panduan Kokurikuler 2025 PDF
Bagi kepala sekolah, guru, koordinator kokurikuler, maupun tim pengembang kurikulum satuan pendidikan yang sedang mencari dokumen rujukan, file Panduan Kokurikuler 2025 dapat diunduh melalui tombol berikut.
📘 Panduan Kokurikuler Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 2025
Format PDF
⬇️ DOWNLOAD PANDUAN KOKURIKULER 2025Catatan: tombol di atas diarahkan ke Google Drive. Setelah file diunggah, gunakan link berbagi file PDF tersebut pada tombol download.
Apa Itu Kokurikuler dalam Panduan 2025?
Jika selama ini kokurikuler sering dipahami sebagai kegiatan tambahan di luar pembelajaran utama, panduan terbaru memberikan gambaran yang lebih jelas.
Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk memperkuat, memperdalam, dan/atau memperkaya kegiatan intrakurikuler dalam rangka mengembangkan kompetensi murid, terutama karakter.
Artinya, kokurikuler seharusnya tidak berdiri tanpa tujuan.
Kegiatan yang dilakukan perlu mempunyai hubungan dengan kebutuhan belajar murid dan kompetensi yang ingin dikuatkan. Karena itu, satuan pendidikan tidak harus membuat kegiatan yang sama dengan sekolah lain.
Justru, panduan memberikan ruang bagi sekolah untuk mengembangkan kegiatan berdasarkan potensi, kebutuhan murid, sumber daya, serta konteks lingkungan masing-masing.
Pemahaman ini penting bagi guru. Kokurikuler bukan tentang membuat sebanyak mungkin kegiatan, melainkan tentang merancang pengalaman yang memang memberikan dampak bagi perkembangan murid.
8 Dimensi Profil Lulusan yang Menjadi Arah Kokurikuler
Salah satu bagian penting dalam Panduan Kokurikuler 2025 adalah penggunaan delapan dimensi profil lulusan sebagai arah pengembangan kompetensi murid.
Kedelapan dimensi tersebut adalah:
- Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
- Kewargaan
- Penalaran kritis
- Kreativitas
- Kolaborasi
- Kemandirian
- Kesehatan
- Komunikasi
Delapan dimensi tersebut bukan sekadar daftar karakter yang ditempelkan pada kegiatan. Panduan menjelaskan bahwa dimensi tersebut merupakan hasil perpaduan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang diharapkan berkembang pada diri murid.
Karena itu, sebelum menentukan kegiatan, sekolah perlu memikirkan terlebih dahulu dimensi apa yang ingin diperkuat.
Misalnya, jika sekolah menemukan bahwa kemampuan kerja sama murid masih perlu diperkuat, kegiatan kokurikuler dapat dirancang dengan aktivitas yang memang memberikan kesempatan kepada murid untuk bekerja bersama, berbagi peran, menyelesaikan masalah, dan merefleksikan pengalaman tersebut.
Kokurikuler Tidak Dirancang Secara Acak
Bagian ini menurut saya sangat penting untuk dipahami guru.
Panduan menegaskan bahwa kegiatan kokurikuler bersifat fleksibel dan kontekstual, tetapi bukan berarti dapat dibuat tanpa perencanaan.
Sebuah kegiatan dapat dikembangkan menjadi kokurikuler apabila mempunyai tujuan untuk memperkuat satu atau lebih dimensi profil lulusan, relevan dengan konteks sosial budaya dan karakteristik murid, memiliki pengelolaan waktu yang sesuai, serta dirancang secara terencana mulai dari tujuan, langkah kegiatan, sampai asesmen.
Jadi, kegiatan seperti kerja bakti, olahraga bersama, kunjungan, kampanye lingkungan, atau kegiatan lainnya dapat menjadi bagian dari kokurikuler apabila dirancang dengan tujuan pembelajaran yang jelas.
Apa Hubungan Kokurikuler dengan Pembelajaran Mendalam?
Inilah salah satu bagian yang menarik dari panduan tersebut.
Kegiatan kokurikuler dirancang dengan mengacu pada kerangka Pembelajaran Mendalam. Panduan menjelaskan empat komponen penting yang saling terhubung, yaitu praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital.
Dengan demikian, kokurikuler bukan hanya kegiatan "keluar kelas" atau aktivitas yang dibuat agar siswa tidak bosan.
Di dalamnya terdapat kesempatan bagi murid untuk mengalami proses belajar secara lebih nyata.
Murid dapat memahami, mengaplikasikan, merefleksikan, dan melakukan tindakan berdasarkan apa yang dipelajari. Panduan bahkan menggambarkan kokurikuler sebagai ruang yang memungkinkan pembelajaran mendalam hadir dalam pikiran, perasaan, dan tindakan murid.
Mindful, Meaningful, dan Joyful dalam Kokurikuler
Ketika dikaitkan dengan Pembelajaran Mendalam, kegiatan kokurikuler dapat dirancang agar:
- Mindful: murid memahami tujuan kegiatan, terlibat secara sadar, dan mendapatkan kesempatan melakukan refleksi.
- Meaningful: kegiatan berhubungan dengan kehidupan nyata, kebutuhan murid, dan lingkungan mereka.
- Joyful: murid mendapatkan pengalaman belajar yang aktif, menyenangkan, aman, dan tidak terasa sebagai beban.
Jadi, guru tidak perlu membuat kegiatan yang terlihat rumit agar dianggap sebagai Pembelajaran Mendalam. Kegiatan sederhana pun dapat bermakna apabila dirancang dengan tujuan yang jelas dan memberikan pengalaman nyata kepada murid.
3 Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Dapat Dipilih Sekolah
Panduan Kokurikuler 2025 mengelompokkan kegiatan kokurikuler ke dalam tiga bentuk utama yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik satuan pendidikan.
1. Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu
Bentuk pertama adalah pembelajaran yang mengintegrasikan dua atau lebih mata pelajaran atau muatan pembelajaran dalam satu tema yang relevan dengan kehidupan murid.
Tujuannya adalah membantu murid melihat hubungan antara berbagai ilmu sekaligus memperkuat dimensi profil lulusan.
Salah satu contoh dalam panduan menggunakan tema "Lingkunganku Sehat, Aku Kuat". Kegiatan dapat menggabungkan IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni dan Budaya, serta Pendidikan Pancasila.
Dalam kegiatan tersebut, murid dapat mengamati lingkungan, mengidentifikasi masalah, mengolah data, membuat pesan kampanye, menghasilkan poster, lalu mempresentasikan hasilnya.
Inilah contoh pembelajaran yang membuat beberapa pengetahuan bertemu dalam satu pengalaman nyata.
2. Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Bentuk kedua berkaitan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH).
Tujuh kebiasaan yang disebutkan dalam panduan meliputi:
- Bangun pagi
- Beribadah
- Berolahraga
- Makan sehat dan bergizi
- Gemar belajar
- Bermasyarakat
- Tidur cepat
Yang menarik, pelaksanaan 7KAIH dalam kokurikuler tidak berhenti pada ajakan atau slogan. Panduan menekankan pentingnya pembiasaan yang dilakukan secara rutin, konsisten, terencana, didampingi, serta direfleksikan melalui asesmen.
Contohnya dapat berupa jurnal kebiasaan harian, tantangan kelas mingguan, kampanye kebiasaan baik, kegiatan lapangan, wawancara, riset, atau aksi kolaboratif.
3. Cara Lainnya Sesuai Konteks Satuan Pendidikan
Sekolah juga diberi ruang untuk mengembangkan bentuk kokurikuler lainnya.
Kegiatan tersebut dapat berupa kegiatan khas satuan pendidikan, kegiatan berbasis nilai sekolah, kegiatan berbasis konteks lokal, maupun kegiatan satu disiplin ilmu yang di dalam pelaksanaannya melibatkan kolaborasi keilmuan dan keahlian.
Ini berarti sekolah tidak perlu memaksakan diri mengikuti satu model yang sama dengan sekolah lain.
Yang terpenting adalah kegiatan tersebut tetap memenuhi kriteria kokurikuler dan mempunyai arah yang jelas terhadap perkembangan murid.
Bagaimana Cara Menyusun Perencanaan Kokurikuler?
Bagi guru yang baru akan menyusun program kokurikuler, bagian perencanaan mungkin menjadi bagian yang paling dibutuhkan.
Secara umum, panduan mengarahkan satuan pendidikan untuk memulai dari kebutuhan dan dimensi profil lulusan yang hendak diperkuat.
1. Membentuk Tim Kerja Kokurikuler
Langkah awal adalah membentuk tim kerja. Kepala satuan pendidikan berperan penting dalam mengoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan.
Tim dapat melibatkan kepala satuan pendidikan, koordinator kokurikuler, guru kelas atau guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, serta warga satuan pendidikan lain yang relevan.
2. Menganalisis Kondisi Satuan Pendidikan
Sekolah perlu melihat kondisi nyata sebelum menentukan kegiatan.
Yang dapat diperhatikan antara lain kebutuhan belajar murid, minat dan bakat, capaian pembelajaran yang masih perlu diperkuat, fasilitas yang tersedia, kemampuan guru, kondisi lingkungan, sumber daya masyarakat, serta kondisi sosial di sekitar sekolah.
Langkah ini membuat program kokurikuler lebih realistis.
Sekolah tidak harus membuat kegiatan mahal. Lingkungan sekitar pun dapat menjadi sumber belajar yang sangat berharga.
3. Menentukan Dimensi Profil Lulusan
Setelah kebutuhan dianalisis, sekolah menentukan dimensi profil lulusan yang menjadi fokus.
Misalnya sekolah ingin memperkuat kesehatan, kolaborasi, dan komunikasi. Ketiga dimensi tersebut kemudian menjadi pertimbangan ketika memilih tema dan merancang aktivitas.
4. Menentukan Tema
Tema berfungsi menghubungkan kegiatan dengan kehidupan nyata murid.
Contoh tema yang terdapat dalam panduan antara lain Generasi Sehat dan Bugar, Peduli dan Berbagi, Aku Cinta Indonesia, Hidup Hemat dan Produktif, Berkarya untuk Sesama dan Bangsa, serta Gaya Hidup Berkelanjutan. Sekolah juga didorong mengembangkan tema lain sesuai konteks dan kebutuhan.
5. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran menjelaskan kemampuan yang diharapkan berkembang setelah murid mengikuti kegiatan.
Dalam panduan, tujuan dapat menggabungkan kompetensi yang ingin dibangun dengan konten atau tema yang digunakan.
Contohnya, pada tema lingkungan, tujuan dapat diarahkan agar murid mampu mengidentifikasi kondisi lingkungan dan menyampaikan ajakan menjaga kebersihan secara kreatif.
6. Menentukan Alokasi Waktu
Alokasi waktu kokurikuler ditentukan dalam struktur kurikulum dan satuan pendidikan memiliki keleluasaan dalam mengatur pembagiannya.
Dalam panduan, alokasi waktu tahunan untuk SD/MI atau bentuk lain yang sederajat adalah 216 JP untuk kelas I dan II, 252 JP untuk kelas III-IV, 252 JP untuk kelas V, dan 224 JP untuk kelas VI.
Alokasi tersebut merupakan total dalam satu tahun pelajaran dan dapat dibagi ke dalam dua semester. Panduan juga menjelaskan bahwa alokasi waktu setiap kegiatan tidak harus sama sehingga sekolah mempunyai ruang untuk mengaturnya sesuai kebutuhan.
Karena itu, guru sebaiknya tidak langsung membagi waktu secara sama rata untuk semua kegiatan. Pertimbangkan tujuan, karakteristik aktivitas, dan kebutuhan murid.
Bagaimana Pelaksanaan Kokurikuler agar Tidak Sekadar Menjadi Kegiatan?
Setelah perencanaan selesai, tantangan berikutnya adalah pelaksanaan.
Di sinilah peran guru sangat menentukan.
Guru tidak hanya menjadi orang yang memberikan instruksi, tetapi juga berperan sebagai aktivator, kolaborator, dan pengembang budaya belajar. Pendekatan seperti penyelidikan, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, serta ruang eksplorasi dapat digunakan sesuai tujuan kegiatan.
Murid perlu mendapatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu, bukan hanya mendengarkan penjelasan.
Misalnya pada tema lingkungan, murid dapat mengamati kondisi sekitar sekolah, mencatat temuan, berdiskusi, mengolah informasi, menyusun solusi, membuat karya, lalu menyampaikan hasilnya.
Rangkaian seperti ini membuat kokurikuler menjadi pengalaman belajar yang utuh.
Bagaimana Asesmen Kokurikuler Dilakukan?
Asesmen dalam kokurikuler tidak semata-mata digunakan untuk memberikan angka.
Asesmen formatif dapat digunakan untuk memantau proses, memberikan umpan balik, serta membantu guru menyesuaikan strategi selama kegiatan berlangsung.
Sementara itu, asesmen sumatif dalam kokurikuler mengacu pada perkembangan delapan dimensi profil lulusan yang menjadi fokus kegiatan. Hasil asesmen kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang pembelajaran berikutnya.
Dengan demikian, guru dapat mengamati proses seperti:
- bagaimana murid bekerja sama;
- bagaimana murid menyampaikan pendapat;
- bagaimana murid menyelesaikan masalah;
- bagaimana murid mengambil tanggung jawab;
- bagaimana murid menghasilkan karya atau solusi; dan
- bagaimana murid merefleksikan pengalaman belajarnya.
Bagaimana Hasil Kokurikuler Dilaporkan?
Pelaporan hasil kokurikuler dicantumkan pada kolom Kokurikuler dalam rapor murid.
Deskripsi pelaporan memuat kegiatan yang dilakukan murid beserta pencapaian dimensi profil lulusan yang telah ditentukan.
Artinya, laporan tidak sekadar berbunyi bahwa murid "mengikuti kegiatan", tetapi sebaiknya menggambarkan perkembangan yang terlihat selama kegiatan.
Evaluasi Kokurikuler Tidak Berhenti Setelah Kegiatan Selesai
Salah satu bagian yang sering terlewat dalam pelaksanaan program sekolah adalah evaluasi.
Padahal panduan menyediakan bagian khusus mengenai evaluasi dan tindak lanjut kokurikuler.
Evaluasi dapat melihat empat komponen, yaitu:
- Input – melihat sumber daya dan perencanaan yang tersedia.
- Process – melihat bagaimana kegiatan dilaksanakan dan bagaimana partisipasi murid.
- Output – melihat hasil kegiatan dan perubahan pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
- Outcome – melihat dampak yang lebih panjang bagi murid dan satuan pendidikan.
Kerangka evaluasi tersebut dijelaskan dalam panduan sebagai model sederhana yang dapat digunakan sekolah untuk melihat efektivitas kegiatan.
Hasil evaluasi kemudian dapat digunakan untuk menentukan tindak lanjut, misalnya memperbaiki perencanaan, meningkatkan kompetensi guru, memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana, atau meningkatkan partisipasi murid.
Contoh Sederhana Kokurikuler SD
Agar gambaran di atas tidak terlalu teoritis, mari kita ambil contoh sederhana.
Tema: Lingkunganku Sehat, Aku Kuat
Dimensi: Kesehatan, Kolaborasi, dan Komunikasi
Aktivitas: Mengamati kebersihan lingkungan sekolah, mengidentifikasi masalah, berdiskusi dalam kelompok, membuat poster ajakan hidup bersih, dan mempresentasikan hasil.
Muatan yang dapat terlibat: IPAS, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni dan Budaya, serta Pendidikan Pancasila.
Contoh tersebut bukan berarti harus diterapkan persis seperti itu di setiap sekolah.
Sekolah dapat mengubah tema, aktivitas, durasi, maupun mata pelajaran yang terlibat berdasarkan kondisi masing-masing. Prinsipnya adalah kegiatan tetap kontekstual dan mengarah pada penguatan dimensi profil lulusan.
Apakah Kokurikuler Harus Selalu Mahal?
Tidak.
Ini justru menjadi salah satu hal yang perlu diluruskan.
Kegiatan kokurikuler dapat memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia di sekolah dan lingkungan sekitar. Panduan menyebut sumber daya fisik, manusia, finansial, serta lingkungan sebagai bagian yang perlu dianalisis ketika merancang kegiatan.
Sekolah yang memiliki halaman luas dapat memanfaatkannya sebagai ruang belajar. Lingkungan desa, kebun, pasar, fasilitas umum, komunitas, orang tua, alumni, maupun praktisi juga dapat menjadi mitra sesuai kebutuhan.
Dengan kata lain, kualitas pengalaman belajar tidak selalu ditentukan oleh besarnya biaya kegiatan.
Peran Orang Tua dan Masyarakat dalam Kokurikuler
Kokurikuler juga membuka ruang kerja sama dengan keluarga dan masyarakat.
Orang tua dapat menjadi teladan dan mitra dalam membangun kebiasaan positif di rumah. Sementara itu, masyarakat dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih luas melalui lingkungan sosial dan berbagai aktivitas nyata.
Kerja sama semacam ini membuat proses belajar tidak berhenti ketika murid keluar dari gerbang sekolah.
Hal tersebut sangat sesuai dengan semangat Pembelajaran Mendalam, yaitu menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata.
Jika Bapak/Ibu Guru sedang menyusun program kokurikuler, merancang kegiatan berbasis profil lulusan, atau ingin memahami lebih jauh hubungan kokurikuler dengan Pembelajaran Mendalam, dokumen ini layak dijadikan salah satu referensi.
Jika Anda juga sedang mencari referensi perangkat yang berkaitan dengan Pembelajaran Mendalam, Anda dapat membaca Modul Ajar Deep Learning SD Sesuai CP Terbaru sebagai bahan tambahan dalam menyusun pembelajaran.
Kesimpulan
Panduan Kokurikuler 2025 memberikan ruang yang cukup fleksibel bagi satuan pendidikan untuk merancang kegiatan sesuai kebutuhan murid dan kondisi lingkungan.
Kokurikuler bukan sekadar kegiatan tambahan. Fungsinya adalah memperkuat, memperdalam, dan memperkaya pembelajaran intrakurikuler sekaligus mengembangkan kompetensi murid, terutama melalui delapan dimensi profil lulusan.
Pelaksanaannya dapat dilakukan melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan/atau bentuk kegiatan lainnya yang sesuai dengan konteks satuan pendidikan.
Yang tidak kalah penting, kokurikuler memiliki hubungan erat dengan Pembelajaran Mendalam. Kegiatan dirancang agar murid tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga mengalami, mengaplikasikan, merefleksikan, dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Karena itu, sekolah tidak perlu berlomba membuat kegiatan yang terlihat paling besar atau paling ramai. Kegiatan yang sederhana, apabila dirancang berdasarkan kebutuhan murid dan dilaksanakan secara sadar, terencana, bermakna, serta melibatkan murid secara aktif, justru dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kuat.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Kokurikuler
Apakah kokurikuler sama dengan kegiatan ekstrakurikuler?
Tidak. Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang berfungsi memperkuat, memperdalam, dan/atau memperkaya kegiatan intrakurikuler. Sementara itu, ekstrakurikuler merupakan bentuk kegiatan pendidikan yang berbeda. Kokurikuler memiliki arah yang jelas terhadap pengembangan kompetensi murid dan dimensi profil lulusan.
Apakah sekolah harus menggunakan tema yang ada dalam panduan?
Tidak harus. Tema dalam panduan dapat digunakan sebagai inspirasi. Satuan pendidikan justru didorong mengembangkan tema yang sesuai dengan kondisi sosial budaya, kebutuhan murid, potensi sekolah, dan lingkungan sekitar.
Apakah kokurikuler harus menggunakan proyek?
Tidak. Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan. Sekolah dapat memilih bentuk dan aktivitas yang sesuai dengan tujuan kegiatan, karakteristik murid, serta konteks satuan pendidikan.
Apakah kegiatan kokurikuler harus melibatkan banyak mata pelajaran?
Tidak selalu. Salah satu bentuknya memang pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, tetapi panduan juga memberikan ruang untuk Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan cara lainnya sesuai karakteristik satuan pendidikan.
Apakah kokurikuler berkaitan dengan Pembelajaran Mendalam?
Ya. Panduan menjelaskan bahwa kerangka pembelajaran kokurikuler mengacu pada kerangka kerja Pembelajaran Mendalam melalui praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital.
Semoga Panduan Kokurikuler 2025 ini dapat membantu Bapak/Ibu Guru bukan hanya dalam melengkapi dokumen sekolah, tetapi juga dalam merancang pengalaman belajar yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh murid.