Kalau Bapak/Ibu Guru masih mencari informasi tentang P5 Kurikulum Merdeka, ada satu perubahan penting yang perlu diperhatikan mulai tahun ajaran 2025/2026.
Istilah dan pola kegiatan yang selama ini dikenal sebagai Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) telah mengalami penyesuaian. Dalam kebijakan terbaru, kegiatan tersebut diperkuat menjadi kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel dan berdampak.
Jadi, bukan berarti sekolah tidak lagi boleh melakukan kegiatan berbasis projek. Justru kegiatan kokurikuler tetap memberikan ruang bagi murid untuk belajar melalui pengalaman nyata, kolaborasi, pembelajaran lintas disiplin ilmu, serta berbagai kegiatan yang sesuai dengan kondisi satuan pendidikan.
Perubahan inilah yang membuat banyak guru bertanya:
“Kalau sekarang sudah kokurikuler, lalu bagaimana bentuk kegiatannya? Apa yang berubah dari P5? Dan apa yang harus disiapkan guru?”
Artikel ini membahas perubahan tersebut dengan bahasa sederhana agar Bapak/Ibu Guru tidak perlu menerka-nerka lagi saat menyiapkan kegiatan kokurikuler di sekolah.
📌 Catatan penting untuk guru
Mulai tahun ajaran 2025/2026, tidak ada pergantian kurikulum nasional. Kurikulum Merdeka tetap digunakan, tetapi terdapat penyesuaian kebijakan, termasuk pembelajaran mendalam, Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan, serta perubahan bentuk dan muatan pembelajaran kokurikuler. Istilah Profil Pelajar Pancasila dalam dokumen kurikulum juga disesuaikan menjadi Profil Lulusan.
Apa Itu Kegiatan Kokurikuler dalam Kurikulum Merdeka?
Kegiatan kokurikuler merupakan bagian dari struktur kurikulum yang berada di antara kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kompetensi dan karakter murid melalui pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan mereka.
Dalam kebijakan terbaru, kegiatan kokurikuler tidak lagi harus mengikuti pola P5 dengan format lama. Satuan pendidikan memiliki ruang yang lebih fleksibel untuk menentukan kegiatan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, karakteristik sekolah, serta kondisi lingkungan sekitar.
Artinya, guru tidak perlu membuat kegiatan yang terlihat besar atau rumit hanya karena ingin disebut projek.
Kegiatan sederhana yang benar-benar memberikan pengalaman belajar kepada murid tetap dapat menjadi kegiatan kokurikuler yang bermakna.
Apakah P5 Sudah Diganti Menjadi Kokurikuler?
Ini bagian yang sering menimbulkan salah paham.
Dalam penyesuaian kurikulum melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, kegiatan kokurikuler diperkuat dari pola Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menuju kegiatan yang lebih fleksibel dan berdampak.
Kemendikdasmen menjelaskan bahwa kokurikuler dapat dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran atau disiplin ilmu, integrasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan bentuk penguatan pembelajaran lainnya. [Sistem Informasi Kurikulum Nasional](https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/berita/detail/langkah-strategis-penyesuaian-kurikulum-paud-serta-jenjang-pendidikan-dasar-dan-menengah-melalui-permendikdasmen-nomor-13-tahun-2025?utm_source=chatgpt.com)
Jadi, lebih tepat apabila guru memahami bahwa P5 merupakan istilah dan pola yang digunakan sebelumnya, sedangkan dalam struktur terbaru sekolah mengembangkan kegiatan kokurikuler sesuai ketentuan yang berlaku.
Apa Perbedaan P5 dengan Kokurikuler Sekarang?
Perubahan utamanya bukan sekadar mengganti nama. Ada perubahan dalam cara sekolah merancang dan mengorganisasikan kegiatan.
| Pola Sebelumnya | Penyesuaian Terbaru |
|---|---|
| Dikenal sebagai P5 | Dikembangkan sebagai kegiatan kokurikuler |
| Berorientasi pada Profil Pelajar Pancasila | Mengacu pada 8 dimensi profil lulusan |
| Projek menjadi bentuk yang sangat dikenal | Lebih fleksibel dan dapat berupa pembelajaran kolaboratif lintas disiplin serta bentuk lainnya |
| Tema projek menjadi perhatian utama | Satuan pendidikan mengembangkan tema sesuai konteks peserta didik dan lingkungan |
Perubahan ini sebenarnya memberikan peluang bagi sekolah untuk membuat kegiatan yang lebih realistis. Guru tidak lagi perlu memaksakan sebuah kegiatan hanya karena mengikuti pola yang sama dengan sekolah lain.
8 Dimensi Profil Lulusan yang Menjadi Arah Pengembangan Murid
Dalam kebijakan terbaru, istilah Profil Pelajar Pancasila dalam dokumen kurikulum disesuaikan menjadi Profil Lulusan. Kemendikdasmen menjelaskan bahwa perubahan tersebut bukan berarti nilai-nilai sebelumnya dihilangkan, tetapi memperkuat karakter dan kompetensi sebagai bagian dari Standar Kompetensi Lulusan. [Penjelasan Kemendikdasmen tentang Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025](https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/13278-permendikdasmen-nomor-13-tahun-2025-menguatkan-arah-kebijakan-melalui-pembelajaran-mendalam?utm_source=chatgpt.com)
Delapan dimensi tersebut meliputi:
- Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Kewargaan
- Penalaran kritis
- Kreativitas
- Kolaborasi
- Kemandirian
- Kesehatan
- Komunikasi
Delapan dimensi tersebut menjadi salah satu acuan penting dalam pengembangan kegiatan kokurikuler.
Bagaimana Bentuk Kegiatan Kokurikuler di Sekolah?
Di sinilah guru memiliki ruang untuk berkreasi.
Kegiatan tidak harus selalu berupa pameran besar atau menghasilkan kerajinan yang kemudian dipajang di sekolah. Yang lebih penting adalah adanya pengalaman belajar yang membantu murid mengembangkan kompetensi yang dituju.
Misalnya, sekolah dapat memilih kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, kesehatan, kebiasaan positif, budaya lokal, literasi, kewirausahaan sederhana, atau persoalan yang memang ditemukan di sekitar peserta didik.
Contoh 1: Program Sekolah Bersih
Murid diajak mengamati kondisi lingkungan sekolah.
Mereka kemudian mencatat masalah yang ditemukan, berdiskusi tentang penyebabnya, mencari solusi, dan melakukan aksi sederhana untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Dari satu kegiatan saja, murid dapat belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, kepedulian lingkungan, dan pemecahan masalah.
Contoh 2: Kebun Mini Sekolah
Siswa dapat membuat kebun sederhana dengan memanfaatkan lahan yang tersedia.
Mereka belajar memilih tanaman, menanam, menyiram, mengamati pertumbuhan, dan mencatat perubahan dari waktu ke waktu.
Kegiatan semacam ini bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajarkan kesabaran dan tanggung jawab melalui pengalaman langsung.
Contoh 3: Gerakan Hemat Air
Siswa mengamati penggunaan air di sekolah dan mencoba menemukan kebiasaan yang menyebabkan pemborosan.
Setelah itu mereka dapat membuat kampanye sederhana, poster, atau ajakan kepada warga sekolah untuk menggunakan air secara bijak.
Contoh 4: Mengenal Budaya Lokal
Siswa dapat mencari informasi mengenai makanan, permainan tradisional, kesenian, bahasa, atau kebiasaan masyarakat di lingkungan sekitar.
Mereka kemudian mendokumentasikan hasil temuannya dan mempresentasikannya kepada teman-teman.
Kegiatan seperti ini dapat membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
Cara Menyusun Kegiatan Kokurikuler yang Tidak Membebani Guru
Kesalahan yang sebaiknya dihindari adalah membuat kegiatan terlalu besar hanya agar terlihat menarik.
Mulailah dari pertanyaan sederhana:
- Masalah apa yang benar-benar ada di lingkungan sekolah?
- Kompetensi apa yang ingin dikembangkan?
- Kegiatan apa yang mampu dilakukan siswa secara nyata?
- Berapa waktu yang tersedia?
- Sumber daya apa yang sudah dimiliki sekolah?
Dari jawaban tersebut, guru dapat menentukan kegiatan yang realistis.
Jangan sampai guru terlalu sibuk menyiapkan kegiatan, sedangkan siswa hanya menjadi penonton.
Hubungan Kokurikuler dengan Pembelajaran Mendalam
Penyesuaian kokurikuler berjalan searah dengan penguatan pembelajaran mendalam. Pemerintah menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam mendorong murid tidak hanya menghafal, tetapi memahami konsep secara utuh, menghubungkan antarkonsep, dan menerapkannya dalam konteks yang berbeda. [Sistem Informasi Kurikulum Nasional](https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/?utm_source=chatgpt.com)
Karena itu, kegiatan kokurikuler dapat dirancang sebagai pengalaman yang membantu siswa belajar secara:
- Berkesadaran, karena siswa memahami apa yang sedang dilakukan dan mengapa kegiatan itu penting.
- Bermakna, karena kegiatan berhubungan dengan kehidupan nyata.
- Menggembirakan, karena siswa memperoleh pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan.
Apakah Kegiatan Kokurikuler Harus Selalu Menghasilkan Produk?
Tidak.
Salah satu hal yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa kegiatan baru dianggap berhasil jika menghasilkan produk yang bagus.
Produk memang bisa menjadi salah satu hasil kegiatan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Guru juga perlu melihat proses yang dialami murid.
Apakah mereka mampu bekerja sama?
Apakah mereka berani menyampaikan pendapat?
Apakah mereka mampu menyelesaikan masalah?
Apakah mereka memahami alasan melakukan kegiatan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat apakah hasil karya terlihat menarik.
Bagaimana Asesmen Kegiatan Kokurikuler?
Asesmen dapat dilakukan dengan memperhatikan proses dan perkembangan kompetensi yang menjadi sasaran kegiatan.
Guru dapat menggunakan beberapa bentuk dokumentasi seperti:
- Catatan observasi.
- Portofolio.
- Hasil karya.
- Presentasi.
- Catatan perkembangan.
- Refleksi peserta didik.
Dengan cara tersebut, guru tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga perjalanan belajar yang dilalui setiap murid.
Perangkat Apa yang Perlu Disiapkan Guru?
Perangkat yang diperlukan tentu perlu disesuaikan dengan bentuk kegiatan dan kebijakan satuan pendidikan. Guru dapat menyiapkan tujuan kegiatan, rancangan aktivitas, pembagian tugas, instrumen observasi, bahan yang diperlukan, serta bentuk dokumentasi dan asesmen.
Bagi guru yang sedang menata perangkat pembelajaran berbasis Deep Learning, Anda dapat melihat referensi berikut:
📘 Sedang Menyiapkan Perangkat Pembelajaran Deep Learning?
Gunakan Modul Ajar Deep Learning SD Sesuai CP Terbaru sebagai salah satu referensi dalam menyusun pengalaman belajar, aktivitas siswa, dan asesmen yang sesuai dengan kebutuhan kelas.
Perangkat sebaiknya tetap disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, dan ketentuan yang berlaku di satuan pendidikan.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari dalam Kegiatan Kokurikuler
Ada beberapa hal yang sering membuat kegiatan menjadi kurang bermakna.
1. Guru Mengerjakan Sebagian Besar Pekerjaan
Jika hampir semua bagian dikerjakan oleh guru, siswa kehilangan kesempatan untuk belajar melalui pengalaman.
2. Kegiatan Terlalu Rumit
Kegiatan yang sederhana tetapi dapat dilakukan murid sendiri justru lebih baik daripada kegiatan besar yang sulit dilaksanakan.
3. Fokus Hanya pada Hasil Karya
Produk bukan satu-satunya ukuran. Proses berpikir, kerja sama, komunikasi, kemandirian, dan refleksi juga perlu diperhatikan.
4. Tidak Berkaitan dengan Kehidupan Siswa
Kegiatan akan terasa lebih bermakna jika berangkat dari lingkungan dan pengalaman yang benar-benar dikenal murid.
Kesimpulan
Kegiatan kokurikuler dalam Kurikulum Merdeka tahun ajaran 2025/2026 bukan sekadar penggantian nama P5. Ada penyesuaian arah dan bentuk kegiatan agar sekolah memiliki ruang yang lebih fleksibel dalam mengembangkan pengalaman belajar yang relevan dan berdampak.
Guru tidak perlu terpaku pada kegiatan yang besar, mahal, atau menghasilkan produk yang rumit. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada murid untuk berpikir, bekerja sama, berkomunikasi, berkarya, memecahkan masalah, serta mengembangkan kompetensi sesuai profil lulusan.
Dengan demikian, perubahan dari pola P5 menuju kokurikuler seharusnya dapat menjadi kesempatan bagi sekolah untuk membuat kegiatan yang lebih dekat dengan kehidupan murid dan lebih realistis untuk dilaksanakan.
Pada akhirnya, kegiatan kokurikuler yang baik bukanlah kegiatan yang paling meriah. Kegiatan yang baik adalah kegiatan yang membuat murid benar-benar belajar melalui pengalaman.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah P5 masih digunakan dalam Kurikulum Merdeka 2025/2026?
Struktur kegiatan telah mengalami penyesuaian. Kegiatan yang sebelumnya dikenal luas sebagai P5 diperkuat menjadi kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel dan berdampak. Karena itu, guru sebaiknya menggunakan struktur dan ketentuan kokurikuler terbaru ketika menyusun program sekolah.
Apa pengganti P5 dalam Kurikulum Merdeka?
Dalam struktur terbaru, kegiatan kokurikuler menjadi bagian dari kurikulum dengan bentuk yang lebih fleksibel. Kegiatan dapat berupa pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran atau disiplin ilmu, penguatan kebiasaan positif, dan bentuk penguatan pembelajaran lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Apa saja 8 dimensi profil lulusan?
Delapan dimensi profil lulusan meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Apakah kegiatan kokurikuler harus berupa projek?
Tidak harus menggunakan satu bentuk kegiatan tertentu. Kokurikuler dibuat lebih fleksibel sehingga satuan pendidikan dapat mengembangkan kegiatan sesuai tema, kompetensi yang dituju, karakteristik peserta didik, serta kondisi lingkungan sekolah.
Perubahan istilah memang membutuhkan penyesuaian. Namun bagi guru, bagian terpenting bukan sekadar mengganti nama P5 menjadi kokurikuler. Yang lebih penting adalah memastikan setiap kegiatan benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid.
Tinggalkan Pesan