Opini: Menakar Efektivitas CP 046 Tahun 2025, Apakah Benar Memudahkan Guru atau Menambah Beban Baru?
Oleh: Redaksi GuruPertama.com
Setiap kali terjadi perubahan kepemimpinan di kementerian, satu hal yang hampir pasti terjadi adalah lahirnya regulasi baru. Di tahun ajaran 2025/2026 ini, kita disambut oleh Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025. Sebuah regulasi yang menjanjikan penyempurnaan Kurikulum Merdeka dengan fokus pada Deep Learning, Coding, hingga integrasi AI.
Namun, pertanyaan besar di kalangan akar rumput—khususnya para guru yang berhadapan langsung dengan siswa—tetap sama: Apakah CP 046 ini benar-benar solusi untuk memerdekakan guru, atau justru menjadi tumpukan beban administrasi baru dengan nama yang lebih canggih?
Deep Learning: Kualitas vs Kejar Tayang Materi
Secara filosofis, konsep Deep Learning (Mindful, Meaningful, dan Joyful) yang diusung CP 046 adalah impian semua pendidik. Kita ingin siswa paham secara mendalam, bukan sekadar hafal demi ujian. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada keberanian pemerintah untuk benar-benar memangkas konten yang tumpang tindih.
Jika jumlah materi tetap padat namun guru dituntut untuk mengajar secara "mendalam", maka yang terjadi adalah kontradiksi. Guru akan kembali terjebak dalam dilema: mengikuti ritme pemahaman siswa yang beragam, atau mengejar target kurikulum agar tidak ditegur pengawas.
Integrasi Coding dan AI: Terobosan atau Paksaan?
Memasukkan elemen Coding dan AI dalam CP 046 adalah langkah visioner. Kita ingin siswa kita kompetitif di level global. Namun, mari kita menengok fakta di lapangan. Bagaimana dengan sekolah di daerah 3T yang akses listriknya saja masih sering mati-nyala? Atau sekolah yang fasilitas komputernya masih sangat terbatas?
Tanpa pemerataan infrastruktur, integrasi teknologi dalam CP terbaru ini berisiko memperlebar jurang kualitas antara sekolah di kota besar dengan sekolah di pelosok. Guru di daerah tidak butuh sekadar "pelatihan webinar", mereka butuh alat dan jaringan yang memadai.
Keresahan Administrasi: Trauma "Ganti Kurikulum"
Bagi banyak guru, perubahan CP seringkali berarti "lembur massal" untuk mengubah Modul Ajar, ATP, hingga format Asesmen. CP 046 menuntut penggunaan Kata Kerja Operasional (KKO) yang lebih tinggi (menganalisis, mengevaluasi). Hal ini bagus secara pedagogis, namun secara administratif, ini berarti guru harus merombak total dokumen yang baru saja mereka selesaikan tahun lalu.
Seorang guru seharusnya diukur dari bagaimana ia menginspirasi di kelas, bukan seberapa mahir ia mengisi aplikasi administrasi.
Kesimpulan: Menanti Aksi Nyata, Bukan Sekadar Dokumen
Menakar efektivitas CP 046 Tahun 2025 bukan tentang setuju atau tidak setuju. Ini tentang sejauh mana pemerintah mau mendengar suara guru. CP ini akan MEMUDAHKAN jika diikuti dengan penyederhanaan laporan di PMM dan dukungan sarana yang nyata.
Sebaliknya, ia akan menjadi BEBAN BARU jika guru dibiarkan berjuang sendirian memahami istilah-istilah canggih tanpa dukungan teknis yang membumi.
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu guru mengenai penerapan CP 046 dan metode Deep Learning ini? Apakah sekolah Anda sudah siap atau justru merasa terbebani? Mari berdiskusi di kolom komentar di bawah ini.
